LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM
PENGANTAR KURIKULUM






DISUSUN OLEH :
ACHMAD PARIZKI (1215121108)
ARIEF RIADI (121512
ASTI INDAH WIRASTUTY (1215121107)
GIBRAN QADARANTA (1215121094)
SITI RIZKIA PUTRI BINTARI (121512

Program Studi :TeknologiPendidikan
Jurusan :KurikulumdanTeknologiPendidikan
FakultasIlmuPendidikan
UniversitasNegeri Jakarta
2012

Landasan Filosofis

Dalam Filsafat Pendidikan, terdapatberbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun tidakterlepas pada aliran – aliran filsafat tertentu. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, yang terkait dengan pengembangan kurikulum.

a.         Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya, dampak sosial tertentudanaliraninilebihberorientasikemasalalu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut dan kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.

b.         Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

C         Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.

d.         Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

e.         Rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu . Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar daripada proses.


Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalamPengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara seklektif untuk lebih menyesuaikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM
PENGANTAR KURIKULUM






DISUSUN OLEH :
ACHMAD PARIZKI (1215121108)
ARIEF RIADI (121512
ASTI INDAH WIRASTUTY (1215121107)
GIBRAN QADARANTA (1215121094)
SITI RIZKIA PUTRI BINTARI (121512

Program Studi :TeknologiPendidikan
Jurusan :KurikulumdanTeknologiPendidikan
FakultasIlmuPendidikan
UniversitasNegeri Jakarta
2012

Landasan Filosofis

Dalam Filsafat Pendidikan, terdapatberbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun tidakterlepas pada aliran – aliran filsafat tertentu. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, yang terkait dengan pengembangan kurikulum.

a.         Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya, dampak sosial tertentudanaliraninilebihberorientasikemasalalu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut dan kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.

b.         Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

C         Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.

d.         Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

e.         Rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu . Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar daripada proses.


Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalamPengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara seklektif untuk lebih menyesuaikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM
PENGANTAR KURIKULUM






DISUSUN OLEH :
ACHMAD PARIZKI (1215121108)
ARIEF RIADI (1215121103)
ASTI INDAH WIRASTUTY (1215121107)
GIBRAN QADARANTA (1215121094)
SITI RIZKIA PUTRI BINTARI (1215121109)

Program Studi :TeknologiPendidikan
Jurusan :KurikulumdanTeknologiPendidikan
FakultasIlmuPendidikan
UniversitasNegeri Jakarta
2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca untuk melangkah lebih maju lagi dalam bidang pendidikan.          
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca, dengan tuangan informasi-informasi dan pemikiran kami yang telah tersaji di dalamnya.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini, sehingga kedepannya, makalah-makalah kami bisa menjadi lebih baik dan lebih informatif lagi.

Jakarta, 6November 2012


Tim Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I............................................................................................................... 1
BAB II............................................................................................................. 2
BAB III............................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 9



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LatarBelakang
 Kurikulum sebagai sebuah rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.
Landasan pengembangan kurikulum tidak hanya diperlukan bagi para penyusun kurikulum atau kurikulum tertulis yang sering disebut juga sebagai kurikulum ideal, akan tetapi terutama harus dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para pelaksana kurikulum yaitu para pengawas pendidikan dan para guru serta pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas-tugas pengelolaan pendidikan, sebagai bahan untuk dijadikan instrumen dalam melakukan pembinaan terhadap implementasi kurikulum di setiap jenjang pendidikan. Penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan berbagai landasan yang kuat agar mampu dijadikan dasar pijakan dalam melakukan proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga dapat memfasilitasi tercapainya sasaran pendidikan dan pembelajaran secara lebih efektif dan efisien.
B.     Tujuan
Melalui pemaparan topik ini pembaca diharapkan:
1.      Memiliki wawasan/pemahaman yang luas tentang landasan pengembangan kurikulum.
2.      Memahamirincian-rinciandalamlandasanfilosofispengembangankurikulum.
3.      Dapatmengambilcontohpengembanganfilosofiskurikulumdalamkehidupansehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Landasan Filosofis
Suatu bangunan kurikulum memiliki empat komponen yaitu komponen tujuan, isi/materi, proses pembelajaran, dan komponen evaluasi, maka agar setiap komponen bisa menjalankan fungsinya secara tepat dan bersinergi, maka perlu ditopang oleh sejumlah landasan yaitu landasan filosofis sebagai landasan utama, masyarakat dan kebudayaan, individu (peserta didik), dan teori-teori belajar (psikologis).
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana (tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
B.     Filsafat Pendidikan
Filsafat berupaya mengkaji berbagai permasalahan yang dihadapai manusia,  termasuk masalah pendidikan. Pendidikan sebagai ilmu terapan, tentu saja memerlukan ilmu-ilmu lain sebagai penunjang, di antaranya filsafat. Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dan pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan. Menurut Redja Mudyahardjo (1989), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya dan pendidikan di Indonesia pada khususnya, yaitu : filsafat idealisme, realisme dan filsafat fragmatisme.
C.    Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Bidang telaahan filsafat pada awalnya mempersoalkan siapa manusia itu? Kajian terhadap persoalan ini berupaya untuk menelusuri hakikat manusia, sehingga muncul beberapa asumsi tentang manusia. Misalnya manusia adalah makhluk religius, makhluk sosial, makhluk yang berbudaya, dan lain sebagainya. Dari beberapa telaahan tersebut filsafat mencoba menelaah tentang tiga pokok persoalan, yaitu hakikat benar-salah (logika), hakikat baik-buruk (etika), dan hakikat indah-jelek (estetika). Oleh karena itu maka ketiga pandangan tersebut sangat dibutuhkan dalam pendidikan. Terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Artinya ke mana pendidikan akan dibawa, terlebih dahulu harus ada kejelasan pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya.
Filsafat akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa, filsafat merupakan perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, filsafat yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat mempengaruhi terhadap tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Tujuan pendidikan nasional di Indonesia tentu saja bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni Pancasila. Hal ini berarti bahwa pendidikan di Indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia yang berPancasila. Dengan kata lain, landasan dan arah yang ingin diwujudkan oleh pendidikan di Indonesia adalah yang sesuai dengan kandungan falsafah Pancasila itu sendiri.
Sebagai implikasi dari nilai-nilai filsafat Pancasila yang dianut bangsa Indonesia, dicerminkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti terdapat dalam UU No.20 Tahun 2003, yaitu : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar  Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadimanusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 2 dan 3). Dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut, tersurat dan tersirat nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan Pancasila.
Melalui rumusan tujuan pendidikan nasional di atas, sudah jelas tergambar bahwa peserta didikyang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan kita antara lain adalah untuk melahirkan manusia yang beriman, bertaqwa, berilmu dan beramal dalam kondisi yang serasi, selaras dan seimbang. Di sinilah pentingnya filsafat sebagai pandangan hidup manusia dalam hubunganya dengan pendidikan dan pembelajaran.
D.    AliranFilsafatPendidikan
Dalam Filsafat Pendidikan, terdapatberbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun tidakterlepas pada aliran – aliran filsafat tertentu. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, yang terkait dengan pengembangan kurikulum.

a.       Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya, dampak sosial tertentudanaliraninilebihberorientasikemasalalu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut dan kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.
Perenialisme diambil dari kata perenial, yang dalam oxford Advanced Learner’s Dictionary of currnt english diartikan sebagai “continuing throughout the whole year” atau “lasting for a very long time” - abadi atau kekal. Dari makana yang terkandung dari kata itu aliran perenialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.
Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.

b.      Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan progrevisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/ sosial.
Menurut Esensialisme, nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus-ratus tahun, dan didalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.
Bagi aliran ini “Education as Cultural Conservation”, Pendidikan Sebagai Pemelihara Kebudayaan. Karena ini maka aliran Esensialisme dianggap para ahli “Conservative Road to Culture” yakni aliran ini ingin kembali kekebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme percaya bahwa pendidikan itu harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Karena itu esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama sehinga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.

c.       Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.Aliran ini menghendaki agar pendidikan selalu melibatkan pserta didik dalam mencari pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing dan menemukan jati dirinya, karena masing-masing individu adalah makhluk yang unik dan bertanggung jawab atas diri dan nasibnya sendiri.

d.      Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
Aliran ini berpendapatbahwapengetahuan yang benarpadamasakinimungkintidakbenar di masamendatang.Progresivisme memandangbahwalingkungan yang ada, baik yang mengenaimanusiamaupun yang lain tidakbersifatsamaataustatis, tetapiselalumengalamiperubahan.Dalampendidikan, progresivismeberpendapatbahwapendidikanberpusatpadasiswadanmemberipenekananlebihbesarpadakreativitas, aktivitas, belajar "naturalistik", hasilbelajar "dunianyata" danjugapengalamantemansebaya. Pendidikanharusterpusatpadaanak, bukannyamemfokuskanpada guru ataubidangmuatan.Progresivismeberpendapatbahwapesertadidikmempunyaikemampuanuntukbereksperimendalam pengalamanhidupnyakarenaadanyabekalpengetahuandankemampuan yang telahdipelajaridandimilikinya.

e.       Rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu . Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar daripada proses.
Dalam aplikasinya dalam dunia pendidikan danpembelajaran, aliran rekonstruktivisme menghendakipembelajaran adalah usaha sadar dari pebelajar untuk menyikapi setiap perkembangan untuk membangun suatu pengetahuan,pengalaman, dan keterampilan baru. Pembelajaran bukanlahsuatu proses yang bersifat dogmatis. Pembelajaran harusmemiliki karakter berpusat kepada siswa.

Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalamPengembangan Model Kurikulum Interaksional.



BAB III
KESIMPULAN

Kurikulum baik pada tahap kurikulum sebagai ide, rencana, pengalaman maupun kurikulum sebagai hasil dalam pengembangannya harus mengacu atau menggunakan landasan yang kuat dan kokoh, agar kurikulum tersebut dapat berfungsi serta berperan sesuai dengan tuntutan pendidikan yang ingin dihasilkan seperti tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan dalam UU No.20 Tahun 2003.
Masing-masing aliran filsafat pendidikanpasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara selektif untuk lebih menyesuaikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.



DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia No.XX Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PengertianKurikulum

Dr. Addamardasyidan Dr. MunirKamil:“Kurikulumadalahsejumlahpengalamanpendidikankebudayaan, sosial, olahraga, dankesenian yang disediakanolehsekolahbagimurid-murid di dalamdan di luarsekolahdenganmaksudmenolongnyauntukberkembangmenyeluruhdalamsegalasegidanmerubahtingkahlakumerekasesuaidengantujuan-tujuanpendidikan.”
Crow and Crow : “KurikulumadalahRancanganPengajaranatausejumlahmatapelajaran yang disusunsecarasistematisuntukmenyelesaikansuatu program untukmemperolehijazah.”

Carter V. Good dalam Oliva, 191:6 :”Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial, kurikulum pendidikan fisika”

Daniel Tanner & Laurel Tanner :“Pengalamanpembelajaran yang terencanadanterarah, yang disusunmelalui proses rekonstruksipengetahuandanpengalaman yang sistematis di bawahpengawasanlembagapendidikan agar pembelajardapatterusmemilikiminatuntukbelajarsebagaibagiandarikompetensisosialpribadinya.”

Murray Print.: ”Kurikumdidefinisikansebagaisemuaruangpembelajaranterencana yang diberikankepadasiswaolehlembagapendidikandanpengalaman yang dinikmatiolehsiswasaatkurikulumituterapkan.
Kurikulumadalahsejumlahmatapelajaran yang harusditempuhdandipelajariolehsiswauntukmemperolehsejumlahpengetahuan.
Kurikulumadalahsuatu program pendidikan yang disediakanuntukmembelajarkansiswa.Dengan program itu, parasiswamelakukanberbagaikegiatanbelajarsehinggaterjadiperubahandanperkembangantingkahlakusiswa, sesuaidengantujuanpendidikandanpembelajaran.Dengan kata lain, sekolahmenyediakanlingkunganbagisiswa yang memberikankesempatanbelajar.”

Sumber : gontor2007.blogspot.com
Pembahasan&Kesimpulan
            Mengacukepadapengertiankurikulummenurut Murray Print, pendidikanituperludiperoleh demi mencapaikehidupan yang lebihbaik.Kemasanpendidikanitusendirijugaperludiaturdengantujuanpendidikan yang semakinmajudenganalur yang seefektifmungkindanpondasipendidikan yang sekuat-kuatnya.Kurikulumitulah yang berperanmengantarkanpendidikankearah yang lebihbaikdenganpengawasandanpengaturan yang rapihdantujuannya yang nyata
Kurikulummemilikidefinisisebagaisebuahrancanganataurencana yang sengajadibuatolehsuatulembagapendidikan yang berisibahan-bahan ajar, rancanganpembelajarandanmatapelajaran.Untukmenyetarakanhaltersebut agar memilikisebuahstandar yang samadalamsuatucakupan, kurikulumberfungsisebagaipersyaratanuntukmendapatkanpengetahuan, pengalamansertauntukmenggaliminatparapelajardansebagaitujuanuntukmendapatkansebuahsertifikatatauijazah.
Takberhentisampaidisitu, kurikulumjugabersifatfleksibel.Isi danaturan-aturannyadapatberubahsesuaiperkembanganilmupendidikanitusendiri.Kita semuatahu, setiapilmutidakberhentiberkembangdariwaktukewaktu.Kurikulumitupadahakekatnyaberkembangberiringandengansuatufokusbidang yang terkait.Misalnya, jikailmuteknologiinformasiberkembang, kurikulumitujugaikutberkembangsesuaidenganperkembangan yang ada.
Kesimpulan yang dapat kami tarikdaripendapatMurray;
1.      Kurikulumsebagaipondasikependidikan
2.      Beruparancangankependidikanberisibahan-bahan ajar
3.      Kurikulumtidakberkembangsendiri


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


M - LEARNING

Kata pengantar

Pertama – tama puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “PEMANFAATAN M-LEARNING DALAM PROSES PEMBELAJARAN”
Pembuatan Makalah ini berisikan tentang informasi pemanfaatan m-Learning dalam proses pembelajaran atau yang lebih khususnya membahas pengertian mobile learning, Semoga penulisan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Mobile Learning atau yang lebih dikenal dengan sebutan m-Learning
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.



Jakarta , 20 september 2012

Tim penyusun



BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada masa ini kemajuan teknologi berkembang dengan begitu pesat, begitu banyak tantangan dan tuntutan yang memengaruhi segala aspek di bidang kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, juga di bidang pendidikan, teknologi yang kian pesat maju, harus diiringi dengan SDM yang unggul dan mutu pendidikan yang baik , untuk mencapai kemajuan ini, tentunya perlu diadakan inovasi – inovasi positif di bidang pendidikan, tentunya beberapa negara maju telah menerapkan inovasi di dalam bidang pendidikannya dalam hal ini kita akan membahas mengenai M-Learning , yaitu suatu teknologi yang dikembangkan negara – negara maju berbasis kan mobile technology, demi mencapai kefektivitasan dan juga keefisienan suatu proses pembelajaran , beberapa aktivitas pembelajaran dapat di selenggarakan secara non konvensional dalam m-learning ini , sehingga teknologi ini diharapkan dapat menciptakan sumber daya manusia yang memiliki nilai lebih , yang mampu bersaing di era globalisasi saat ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi M-Learning
2. Apa kelebihan dan kekurangan M-Learning
3. Bagaimana penerapan M-Learning di Negara – Negara maju
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Untuk mengetahui definisi M-Learning
2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan M-Learning dalam pendidikan
3. Untuk mengetahui penerapan M-Learning Negara – Negara maju



BAB II
PEMBAHASAN
Apa itu M-Learning
Mobile Learning didefinisikan oleh Clark Quinn (Quinn 2000) sebagai : “The intersection of mobile computing and e-learning : accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. E-Learning independent of location in time or space” . berdasarkan definisi tersebut dapat di ambil kesimpulan , m-Learning adalah kemampuan akses suatu sumber, dimanapun dengan kemampuan pencarian yang canggih ,kaya akan interaksi, dan sangat membantu dalam mencapai kefektivitasan belajar dan kinerja berdasarkan penilaian, ,istilah m-Learning atau mobile learning merujuk pada penggunaan perangkat keras yang bergerak , seperti PDA, Laptop , Smartphone, MP3 player, dll, meski M-Learning ini terkait dengan E-Learning dan pendidikan jarak jauh , namun itu berbeda dalam fokus pada pembelajaran seluruh konteks dan pembelajaran dengan perangkat mobile, salah satu definisi tambahan mengenai mobile learning : setiap jenis pembelajaran yang terjadi ketika pelajar tersebut tidak di lokasi yang di tentukan, atau pembelajaran yang terjadi ketika pelajar mengambil keuntungan dari kesempatan yang ditawarkan oleh teknologi mobile, dengan kata lain M-Learning menghilangkan keterbatasan / penghalang dalam proses pembelajaran dengan mobilitas dari perangkat portable. Selain itu juga M-Learning adalah pembelajaran yang unik karena pembelajar dapat mengakses materi pembelajaran, arahan dan aplikasi yang berkaitan dengan pembelajaran, kapan-pun dan dimana-pun. Aplikasi – aplikasi yang interaktif dan bersifat edutainment (edukasi dan entertainment) , unik dalam pembelajaran membantu berlangsungnya proses pembelajaran secara menyenangkan , dan mengurangi rasa tegang dalam suatu sistem pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan tingkat perhatian terhadap materi – materi yang disampaikan ,siswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran ,menghemat waktu karena jika diterapkan siswa tidak perlu hadir di dalam kelas untuk mengumpulkan / mengerjakan tugas,cukup tugas tersebut dikirim melalui applikasi yang tersedia dalam mobile phone, yang secara langsung memudahkan proses pengumpulan tugas yang juga meningkatkan proses pembelajaran juga secara tidak langsung , juga dapat memotivasi anak didik kepada pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) , selain itu dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, m-Learning memungkinkan adanya lebih banyak kesempatan berinteraksi dan berkolaborasi secara terimprovisasi ,

Kelebihan dan kekurangan M-Learning
KELEBIHAN M-LEARNING
Beberapa kelebiham M-Learning dibandingkan metode pembelajaran lain
· dapat digunakan dimana-pun pada waktu kapan-pun,
· kebanyakan divice bergerak memiliki harga yang relatif lebih murah dibanding harga PC desktop,
· ukuran perangkat yang kecil dan ringan daripada PC desktop,
· diperkirakan dapat mengikutsertakan lebih banyak pembelajar karena m-Learning memanfaatkan teknologi yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
· Applikasi – applikasi interaktif yang sudah dapat di unduh dengan mudah dan gratis
· Lebih menghemat biaya dalam berkomunikasi

KEKURANGAN M-LEARNING
Meski memiliki beberapa kelebihan, m-Learning tidak akan sepenuhnya dapat di implementasikan. Hal ini dikarenakan m-Learning memiliki keterbatasan-keterbatasan terutama dari sisi perangkat/media belajarnya. Keterbatasan perangkat bergerak antara lain sebagai berikut.
1. Kemampuan prosesor
2. Kapasitas memori
3. Layar tampilan
4. Keterbatasan baterai
5. Pengguna harus memiliki kelebihan dalam bidang teknologi
Namun kekurangan dalam M-Learning lambat laun akan dapat di atasi seiiring dengan perkembangan teknologi yang pesat , misalkan layar tampilan yang kecil kini dapat diatasi dengan adanya Proyektor, kecepatan processor handheld sekarang yang ditawarkan sudah mulai meningkat dan makin canggih, kapasitas memori eksternal yang ditawarkan kini mampu memuat dengan kapasitas yang lebih besar namun dengan harga yang murah, Keterbatasan dalam ketersediaan energy batere akan dapat teratasi dengan pemanfaatan sumber daya alternatif yang praktis, mudah didapat dan mudah dibawa,seperti portable charger , baterai cair, tenaga gerak manusia, tenaga matahari dan lain-lain.

C. Operasional
Operasional M-Learning pun dibagi atas dua bagian :
1. Multimedia based, yang lebih diutamakan bagi mereka yang masih sanggup untuk membeli smartphone, yang minimal dilengkapi dengan JavaME. Yang dimaksud dengan M-Learning multimedia adalah materi yang diberikan bersifat interaktif sehingga dapat lebih mudah dimengerti dan menarik bagi penggunanya. Media yang digunakan bisa beberapa macam, yaitu: mobile application, animasi (semacam flash), ataupun via website tertentu.
Contohnya : aplikasi multimedia yang dibuat adalah aplikasi tentang pemantulan benda (Fisika). Maka, dapat dibuat aplikasi sejenis simulasi, di mana pengguna dapat mencoba-coba sendiri. Tentu, teori-teori dasar harus diberikan di sana sebagai penjelasan.
2. Lalu, bagi mereka yang kurang beruntung dan hanya punya handphone hitam putih yang hanya bisa SMS, bagaimana ? M-Learning yang disediakan untuk mereka adalah text-based. Jadi, dalam kasus ini, materi-materi M-learning akan diberikan dalam bentuk teks yang dikirim via sms.
Contohnya : pengguna ingin mengambil materi tentang pelajaran Sejarah Majapahit. Maka, sejumlah SMS yang berkaitan dengan materi tersebut akan dikirimkan ke handphone yang meminta materi.
Sistem distribusi materi yang dapat dipilih adalah :
- Subscriber : pengguna dapat berlangganan layanan M-Learning ini. Setiap ada materi baru yang dibuat akan diberitahukan kepada pelanggan.
- Menyediakan topik dan tema untuk dipilih sendiri oleh user. Operator telekomunikasi menyediakan SMS gateway untuk menangani permintaan. Misalkan, pengguna meminta materi sejarah dengan mengirim M-LEARN SEJARAH. Lalu, akan dibalas dengan SMS yang berisi daftar lengkap materi yang berkaitan dengan Sejarah, yang dapat dipilih oleh user.



BAB III
KESIMPULAN

Pengembangan e-learning di institusi pendidikan melibatkan banyak faktor dalam organisasi, yaitu infrastruktur teknologi, sumber daya manusia, dan lingkungan yang mencakup kepemimpinan dan kultur. Model Mobile Learning merupakan manifestasi dari kesiapan seluruh komponen organisasi untuk mengadopsi e-learning.
Model Mobile Learning tidak hanya untuk mengukur tingkat kesiapan institusi untuk mengimplemantasikan e-learning. Tetapi yang lebih penting adalah dapat mengungkap faktor atau area yang masih lemah dan memerlukan perbaikan dan area yang sudah dianggap berhasil atau kuat dalam mendukung implementasi e-learning.
Model Mobile Learning pada tahap analisis digunakan untuk menyusun materi kebutuhan yang menjadi base line untuk tahap desain, pengembangan, dan implementasi. Pada tahap evaluasi, model Mobile Learning digunakan untuk mengukur keberhasilan dan menentukan prestasi untuk proses perbaikan pada periode berikutnya.


Daftar Pustaka

http://mtamim.files.wordpress.com/2008/12/mlearn_tamim.pdf
http://www.mediapendidikan.net/index.php?option=com_content&view=article&id=6:teori-belajar&catid=29:teori-belajar&Itemid=22
http://anthonybloging.wordpress.com/2011/04/16/mobile-learning/
http://creandivity.com/2010/12/microsoft-bloggership-2011-m-learning-untuk-pendidikan-indonesia/

(Makalah PTKI Kelompok 7)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS