LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM



Landasan Filosofis

Dalam Filsafat Pendidikan, terdapatberbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun tidakterlepas pada aliran – aliran filsafat tertentu. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, yang terkait dengan pengembangan kurikulum.

a.         Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya, dampak sosial tertentudanaliraninilebihberorientasikemasalalu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut dan kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.

b.         Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

C         Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.

d.         Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

e.         Rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu . Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar daripada proses.


Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalamPengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara seklektif untuk lebih menyesuaikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENGINTREGRASIAN TIK DALAM PROSES PEMBELAJAR

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok dalam bentuk makalah yang berjudul  Integrasi TIK Dalam Belajar Dan Pembelajaran“.
 Makalah kelompok ini, penulis susun untuk memenuhi tugas kelompok yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Pengantar Teknologi Komunikasidan Informasi, yakni Bapak Cecep.......
          Penulis menyadari dalam penulisan makalah ilmiah ini masih dirasakan kurang sempurna, karena itu penulis dengan terbuka menerima segala kritik dan saran dari semua pihak guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.




Jakarta, 14 Oktober 2012



Penulis





DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................ii

























BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang.
Dewasa ini, proses pembelajaran yang ada di sekitar kita tidak jauh-jauh dari perkembangan teknologi, mulai dari mobile phone, note book, televisi, dan lain sebagainya. Hal ini karena memang pengaruh teknologi sangat besar dan tidak bisa kita pungkiri bahwa kita membutuhkan teknologi dalam dunia pendidikan. Jika merunut pada salah satu prinsip kurikulum  pendidikan yaitu harus relevan dengan perkembangan IPTEK, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang tiap saat. Maka TIK tidak bisa kita nafi kan sebagai sumber belajar.

B.  Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disimpulkan beberapa pertanyaan yang akan menggiring kita ke topik pembahasan, yaitu:
2.   Apa yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses  pembelajaran?
3.   Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses Pembelajaran Penting?
4.   Bagaimana Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?
5.   Apa saja hambatan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian
J Integrasi
Integrasi adalah pembauran hingga menjadi  kesatuan yang utuh.
J TIK
Teknologi informasi dan komunikasi tidak terfokus pada segala sesuatu hal yang berkaitan dengan internet dan computer saja, akan tetapi segala sarana dan fasilitas yang dapat membantu proses belajar dan pembelajaran.
J Belajar
Suatu usaha yang dilakukan dari dalam diri seseorang untuk berubah ke arah yang lebih baik.
J Pembelajaran
Adalah suatu proses, cara, perbuatan menjadikan orang agar mau belajar yang berlangsung diluar diri seseorang (eksternal)

B.  Integrasi TIK dalam belajar
Dewasa ini, proses pembelajaran yang ada di sekitar kita tidak jauh-jauh dari perkembangan teknologi, mulai dari mobile phone, note book, televisi, dan lain sebagainya. Hal ini karena memang pengaruh teknologi sangat besar dan tidak bisa kita pungkiri bahwa kita membutuhkan teknologi dalam dunia pendidikan. Jika merunut pada salah satu prinsip kurikulum  pendidikan yaitu harus relevan dengan perkembangan IPTEK, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang tiap saat. Maka TIK tidak bisa kita nafi kan sebagai sumber belajar.

Menggunakan TIK secara efektif di dalam kelas bukanlah menyangkut tentang menjalankan sebuah teknologi sampai bekerja. Penggunaan TIK bukanlah apa yang kita gunakan tetapi yang penting adalah bagaimana dan kapan kita menggunakannya.
Menggunakan TIK dalam setiap belajar akan memacu inovasi. Inovasi adalah menciptakan sesuatu yang menarik, memikat, merangsang pemikiran, dan menyenangkan. Salah satu kelebihan penggunaan TIK adalah kemampuannya dalam meracik sebuah pelajaran yang memperdalam pemahaman siswa akan konsep dan ide, serta memberikan kepada mereka pengalaman-pengalaman yang baru dan menimbulkan rasa haus akan pengetahuan di seluruh kelas.
Berdasarkan banyak penelitian, penggunaan TIK di dalam kelas mempengaruhi penguasaan dan motivasi siswa. Penerapan TIK dalam pembelajaran mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada itu, diantaranya:
§     Membuka cakrawala baru dalam kegiatan belajar dan mengajar. Mengajar menggunakan TIK memberikan semangat baru dalam pengajaran, mengadopsi pendekatan yang baru, mengumpulkan berbagai ide dan konsep, serta mengembangkan kecakapan-kecapakan yang baru.
§     Membantu memacu dan mendorong siswa. Menggunakan TIK secara interaktif membantu meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan perhatian siswa akan pelajaran, serta membantu membentuk perilaku siswa.
§     Mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja, karena saat ini sulit sekali menemukan sebuah pekerjaan yang tidak tersentuh oleh TIK.
§     Membantu sekolah untuk memaksimalkan sumber daya yang ada, membantu untuk menghemat uang dan waktu dengan memaksimalkan dampak yang terjadi akibat penggunaan TIK, membantu mengurangi beban dalam persiapan, perencanaan dan pengayaan. Dengan mudah guru dapat melihat kembali pekerjaan-pekerjaan yang sudah dilakukan, serta menganalisis perkembangan siswa dengan cepat
§     Leluasa. Maksudnya adalah belajar dan mengajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam berbagai tingkatan, kemampuan dan gaya belajar siswa. TIK memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengatur cara belajar mereka, dan dengan cara yang paling sesuai menurut tipe belajar masing-masing. Siswa memiliki akses ke berbagai sumber pengetahuan; baik itu materi maupun orang/ahli. Dengan demikian siswa mampu memiliki pengalaman personal dimana mereka memilih cara belajar seperti apa yang mereka lebih sukai.
§     Kapanpun dan dimanapun. Dengan menggunakan TIK, siswa tidak perlu tertinggal pelajaran jika tidak dapat menghadiri sebuah kelas, siswa sekarang mempunyai akses untuk belajar kapanpun dan dimanapun mereka sukai.
§     Pembelajaran Aktif. pembelajaran tidak lagi bersifat pasif, yakni siswa duduk di depan guru dan “learning by telling”, penggunaan TIK secara efektif mampu membuat pembelajaran menjadi aktif. Penekanannya adalah interaktif atau “learning by doing”.
§     Komunitas Online. Belajar adalah aktifitas sosial, dengan penggunaan TIK pembelajaran yang maksimal dan tahan lama dapat dicapai dengan bergabung bersama komunitas online dan jaringan. Siswa didorong untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi pengetahuan. TIK mendorong pembelajaran melalui refleksi dan diskusi.

C.  Integrasi TIK dalam pembelajaran
&  Apa yang Dimaksud dengan Mengintegrasikan TIK ke dalam proses  pembelajaran?
Mari kita bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.
Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK
dalam pembelajaran kedalam empat tahap sebagai berikut:



1.   Tahap emerging: baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya.
2.   Tahap applying: satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran).
3.   Pada tahap integrating: TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran).
4.   Tahap transforming: merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi
      Apa yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran. Sebagian besar, TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di sekolah-sekolah. Bahkan di tingkat perguruan tinggi atau akademi, banyak dibuka program studi yang berkaitan dengan TIK, seperti teknik informatika, manajemen informatika, teknik komputer, dan lain- lain.

&  Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses Pembelajaran Penting?
Jawabannya sangat berkaitan erat dengan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk siap memasuki era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Tahun 2020 Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas (AFTA). Pada masa itu, masyarakat Indonesia harus memiliki ICT literacy yang mumpuni dan kemampuan menggunakannya untuk meningkatkan produktifitas (knowledge-based society). Pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan ICT literacy membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) pada diri siswa, disamping dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran itu sendiri.  
UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama:
Q Untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada orang lain;
Q Untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan
Q Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.

&  Bagaimana Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?
Dari sisi pendekatan, Fryer (2001) menyarankan dua pendekatan yang dapat dilakukan guru ketika merencanakan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu:
Pendekatan Topik (Theme-Centered Approach), Pada pendekatan ini, topik atau satuan pembelajaran dijadikan sebagai acuan. Secara sederhana langkah yang dilakukan adalah:
1.    menentukan topik.
2.    menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
3.    menentukan aktivitas pembelajaran dan software (seperti modul. LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
·         Pendekatan Software (Software-centered Approach), menganut langkah yang sebaliknya. Langkah pertama dimulai dengan mengidentifikasi software (seperti bku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang ada atau dimiliki terlebih dahulu. Kemudian menyesuaikan dengan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan software yang ada tersebut. Sebagai contoh, karena di sekolah hanya ada beberapa VCD atau mungkin CD- ROM tertentu yang relevan untuk suatu topik tertentu, maka guru merencanakan pengintegrasian software tersebut untuk mengajar hanya topic tertentu. Topik yang lain terpaksa dilaksanakan dengan cara konvensional.

&  Apa saja hambatan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?
Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Hambatan- hambatan tersebut diantaranya adalah:
6  Penolakan/keengganan untuk berubah (resistancy to change), khususnya dari policy maker (kepala sekolah dan guru).
6  Kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru).
6  Ketersedian fasilitas TIK.
6  Ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber.
6  Keberlangsungan (sustainability) karena keterbatasan dana.







BAB III
KESIMPULAN

          Di era globalisasi ini, proses belajar dan pembelajaran tidak luput dari perkembangan teknologi. Hal ini dikarenakan pengaruh teknologi sangat besar dan tidak bisa dipungkiri bahwa kita membutuhkan teknologi dalam dunia pendidikan. Berdasarkan penelitian, penggunaan TIK di dalam kelas mempengaruhi penguasaan dan motivasi siswa. Namun, tidak menutup kemungkinan ada hambatan dalam mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran, seperti kesiapan SDM (Sumber Daya Manusia).












DAFTAR PUSTAKA


















TUGAS PENGUASAAN KELOMPOK

1.   Apa yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses  pembelajaran?
2.   Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses Pembelajaran Penting?
3.   Bagaimana Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DEFINISI KOMUNIKASI





5 Pengertian Komunikasi

1. Colin Cherry
Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.


2. Carl I. Hovland

Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.


3. William Albig

Komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.


4. Karfried Knapp

Komunikasi merupakan interaksi antar pribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata) dan non verbal. Sistem ini dapat disosialisasikan secara langsung / tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral, dan visual).


5. William J.Seller
Komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.


Tugas Individu Dasar-dasar Komunikasi
Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CONTOH PERILAKU KOMUNIKASI





Komunikasi dapat terjadi secara tatapmuka (konvensional) maupun bermedia (digital). Berikut adalah satu contoh masing-masing dari 9 perilaku komunikasi dalam konteks pembelajaran:

· 1A. Perilaku simtomatik yang tidak dipersepsi – Ketika presentasi di depan kelas, badan kita gemetaran karena gugup, namun tidak ada seorang pun yang melihatnya.
· 1B. Simtom yang dipersepsi secara insidental – Ketika presentasi di depan kelas, badan kita gemetar. Kemudian teman-teman menyadari bahwa badan kita gemetar karena gugup, walaupun sebelumnya mereka tidak memperhatikan.
· 1C. Simtom yang diperhatikan – Ketika presentasi di depan kelas, badan kita gemetar. Kemudian seorang teman yang berada paling dekat dengan kita bertanya, “kamu sepertinya gugup sekali ya.”
· 2A. Pesan nonverbal yang tidak diterima – Ketika kita ingin mengajukan pertanyaan kepada dosen, kita pasti terlebih dahulu mengacungkan tangan. Namun, tidak hanya kita yang mengacungkan tangan, banyak teman-teman yang lain yang mengacungkan tangan karena sama-sama ingin bertanya. Lalu dosen tidak menunjuk ke arah kita, melainkan ke arah salah satu teman kita yang mengacungkan tangan juga.
· 2B. Pesan nonverbal insidental – Ketika dosen sedang menjelaskan apa yang sedang dipelajari, lalu kita memiliki kesibukan sendiri. Namun, ketika dosen bertanya kepada kita, kita dapat menjawab apa yang dijelaskan tadi.
· 2C. Pesan nonverbal yang diperhatikan – Ketika kita ingin mengajukan pertanyaan kepada dosen, kita pasti terlebih dahulu mengacungkan tangan. Lalu dosen langsung menunjuk ke arah kita dan mempersilakan kita untuk bertanya.
· 3A. Pesan verbal yang tidak diterima – Ketika kita hendak mengirim tugas melalui email, dan pesan itu tidak terkirim karena adanya masalah dalam koneksi internet.
· 3B. Pesan verbal insidental – Ketika proses belajar sedang berlangsung di dalam kelas, ada salah satu di antara kita yang ‘nyeletuk’, namun seisi ruangan kelas tidak terlalu memperhatikannya.
· 3C. Pesan verbal yang diperhatikan – Ketika kita sedang presentasi di depan kelas bersama kelompok, lalu kelompok yang lain beserta dosen memperhatikan apa yang sedang kita presentasikan.


Tugas Individu Dasar-dasar Komunikasi
Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


MODEL KOMUNIKASI LASSWELL DALAM PEMBELAJARAN



Model Komunikasi Lasswell dalam Pembelajaran

Model komunikasi Lasswell, dapat menjelaskan bagaimana komunikasi terjadi dalam proses pembelajaran, sesuai yang diungkapkan dalam model ini, yaitu “who says what in which channel to whom with what effect”, yang artinya “siapa mengatakan apa dengan medium apa kepada siapa dengan pengaruh apa?”.
Lalu hubungan antara model komunikasi ini dengan pembelajaran adalah sebagai berikut:
· Who
Siapa di sini adalah guru.
· Says What
· Maksudnya adalah materi yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik.
· In Which Channel
Yaitu media yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi kepada peserta didik.
· To Whom
Siapa di sini adalah peserta didik.
· With What Effect
Yaitu pengaruh yang ditimbulkan oleh guru kepada peserta didik setelah menyampaikan materi tersebut.
Contohnya adalah, tugas diskusi virtual mata kuliah Dasar Komunikasi yang diberikan minggu lalu. Ibu Murti (Who) memberikan materi didiskusikan, yaitu Komunikasi dan Pembelajaran (Says What) melalui Web Bali (In Which Channel) kepada mahasiswa TP 2012 (To Whom) sehingga mahasiswa TP 2012 dapat mengerjakan assignment yang diberikan berdasarkan hasil diskusi tersebut (With What Effect).
Jika dikaitkan dengan komponen ABCD dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
A. To Whom
Peserta didik adalah Audience.
B. In Which Channel
Dapat dikategorikan sebagai Behavior, yang berperan dalam menyampaikan materi.
C. Who Says What
Dikategorikan sebagai Condition, dimana peserta didik mampu memahami materi apa yang disampaikan oleh guru.
D. With What Effect
Pengaruh yang ditimbulkan adalah sebagai Degree, atau tolak ukur tercapainya tujuan pembelajaran tersebut.
Contohnya, “Siswa SMK kelas XII semester V (Audience), diharapkan mampu untuk membuat animasi 3D dengan software 3DsMax (Behavior) berdasarkan pelatihan yang telah diberikan oleh pembimbing masing-masing (Condition) dengan komponen teknik pembuatan karakter animasi dan action script (Degree)”.
Kesimpulannya adalah guru memberikan materi kepada peserta didik melalui media yang disesuaikan untuk mencapai tujuannya, yaitu menghasilkan peserta didik yang kompeten.


Tugas Individu Dasar-dasar Komunikasi
Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MODEL KOMUNIKASI SHANNON WEAVER





Model ini membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumber daya informasi (source information) yang menciptakan sebuah pesan (message) dan mengirimnya dengan suatu saluran (channel)kepada penerima (receiver) yang kemudian membuat ulang (recreate)pesan tersebut. Dengan kata lain, model ini mengasumsikan bahwa sumberdaya informasi menciptakan pesan dari seperangkat pesan yang tersedia. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang dipakai. Saluran adalah media yang mengirim tanda dari pemancar kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, pemancar adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh udara. Penerima adalah mekanisme pendengaran yang kemudian merekonstruksi pesan dari tanda itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam model ini adalah gangguan.

Mengenal Teori Shannon-Weaver
Sebagai peneliti untuk perusahaan telekomunikasi, Shannon tentu saja tertarik terhadap efisiensi mengirim infomasi melalui saluran telegram dan telepon yang waktu itu belum berkembang seperti saat ini. Untuk itu, Shannon perlu memandang informasi sebagai simbol-simbol yang dipertukarkan dalam komunikasi antar manusia. Secara khusus, dia harus menjelaskan bagaimana alat dan saluran komunikasi mengirim simbol-simbol itu dari satu titik di suatu tempat ke titik lain di tempat lainnya. Ini dikenal sebagai transmisi informasi.
Bagi laboratorium Bell tempat Shannon bekerja, kapasitas, efisisiensi, dan efektivitas transmisi ini menjadi amat penting untuk pengembangan jaringan telepon. Shannon lalu menggunakan pendekatan matematik yang memudahkan manusia mereduksi gejala rumit agar mudah dipahami, dan kemudian menghitung atau mengukur gejala tersebut untuk mencapai efisiensi teknologi.
Setahun setelah Shannon mengajukan pemikiran matematisnya di jurnal perusahaan Bell, teori ini dikembangkan lebih jauh bersama seorang rekannya, Warren Weaver, untuk menjadi buku. Di dalam buku inilah mereka menegaskan bahwa untuk memahami informasi, kita perlu berasumsi bahwa semua tujuan komunikasi adalah mengatasi ketidakpastian (uncertainty). Teori yang dikembangkan Shannon dan Weaver menyederhanakan persoalan komunikasi ini dengan memakai pemikiran-pemikiran probabilitas (kemungkinan).
Jika kita melakukan undian dengan melempar sebuah uang logam, hasil undian itu dianggap bernilai satu bit informasi karena mengandung dua kemungkinan dan setiap kemungkinan mengandung nilai 0,5 alias sama besar dari segi kesempatan undian. Dari pemikiran dasar yang sederhana ini, Shannon dan Weaver menyatakan bahwa semua sumber informasi bersifat stochastic alias probabilistik (bersifat kemungkinan). Jika kemungkinan tersebut bersifat tidak mudah diduga, maka derajat ketidakmudahan ini disebut sebagai entropy.
Melalui pernyataan-pernyataan matematis, Shannon (dan lalu juga Weaver) menunjukkan hubungan antara elemen sistem teknologi komunikasi, yaitu sumber, saluran, dan sasaran. Setiap sumber dalam gambaran Shannon memiliki tenaga atau daya untuk menghasilkan sinyal. Dengan kata lain, pesan apa pun yang ingin disampaikan melalui komunikasi, perlu diubah menjadi sinyal, dalam sebuah proses kerja yang disebut encoding atau pengkodean. Sinyal yang sudah berupa kode ini kemudian dipancarkan melalui saluran yang memiliki kapasistas tertentu. Saluran ini dianggap selalu mengalami gangguan (noise) yang mempengaruhi kualitas sinyal. Memakai hitung-hitungan probabilitas, teori informasi mengembangkan cara menghitung kapasitas saluran dan kemungkinan pengurangan kualitas sinyal. Sesampainya di sasaran, sinyal ini mengalami proses pengubahan dari kode menjadi pesan, atau disebut juga sebagai proses decoding.
Teori informasi Shannon juga menganggap bahwa informasi dapat dihitung jumlahnya, dan bahwa informasi bersumber atau bermula dari suatu kejadian. Jumlah informasi yang dapat dikaitkan, atau dihasilkan oleh, sebuah keadaan atau kejadian merupakan tingkat pengurangan (reduksi) ketidakpastian, atau pilihan kemungkinan, yang dapat muncul dari keadaan atau kejadian tersebut. Dengan kata yang lebih sederhana, teori ini berasumsi bahwa kita memperoleh informasi jika kita memperoleh kepastian tentang suatu kejadian atau suatu hal tertentu.
Keunggulan teori Shannon-Weaver terletak pada kemampuannya membuat persoalan komunikasi informasi menjadi persoalan kuantitas, sehingga sangat cocok untuk mengembangkan teknologi informasi. Kritik terhadap teori mereka datang dari kaum yang mencoba mengaitkan informasi dengan makna dan kandungan nilai sosial-budaya di dalam informasi. Sampai sekarang, perdebatan tentang apakah informasi adalah sesuatu yang kuantitatif atau kualitatif masih terus berlangsung. Ada yang mencoba mengambil kebaikan dari kedua pihak dengan mengatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang berwujud dan sekaligus bersifat abstrak.
Jasa Shannon-Weaver terletak pada kepioniran mereka memperkenalkan diskusi dan aplikasi informasi ke dalam kehidupan manusia. Apa yang sekarang kita alami dan nikmati, adalah hasil perkembangan dari pemikiran mereka juga.

Mathematical Theory of Shannon & Weaver
Claude Shannon
Karya Shannon dan Weaver, Mathematical Theory of Communication (1949), adalah salah satu pelopor teori komunikasi, dan juga dianggap sebagai salah satu teori komunikasi yang tertua. Teori ini juga salah satu contoh yang paling jelas dari Mahzab Proses, yaitu aliran yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan.
Fokus utama teori ini adalah untuk menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi dapat digunakan secara efisien. Bagi mereka, saluran utamanya adalah kabel telepon dan gelombang radio. Mereka mencetuskan teori yang memungkinkan mereka mendekati masalah bagaimana mengirim sejumlah informasi yang maksimum melalui saluran yang ada, dan bagaimana mengukur kapasitas dari suatu saluran yang ada untuk membawa informasi. Mereka menggunakan asumsi bahwa komunikasi antar manusia (human communication) itu ibarat hubungan melalui telepon dan gelombang radio.



Sumber (source) dipandang sebagai pembuat keputusan (decision maker), yaitu sumber yang memutuskan pesan mana yang akan dikirim. Pesan yang sudah diputuskan untuk dikirim kemudian diubah oleh transmiter menjadi sebuah sinyal yang dikirim melalui saluran kepada penerima (receiver). Diumpamakan telepon, salurannya adalah kabel, sinyalnya adalah arus listrik di dalamnya, dan transmiter dan penerimanya adalah pesawat telepon.
Shannon dan Weaver mengidentifikasi tiga level masalah (noise) dalam studi komunikasi. Ketiga hal tersebut adalah:
Level A (masalah teknis)
Bagaimana simbol-simbol komunikasi dapat ditransmisikan secara akurat?
Level B (masalah semantik)
Bagaimana simbol-simbol yang ditransmisikan secara persis menyampaikan makna yang diharapkan?
Level C (masalah keefektifan)
Bagaimana makna yang diterima secara efektif mempengaruhi tingkah laku dengan cara yang diharapkan?

Warren Weaver
Ibarat sedang berkomunikasi lewat telepon, gangguan teknis adalah tentang apakah telepon kita berfungsi baik atau tidak. Jika telepon yang kita gunakan sinyalnya tidak jelas atau putus-putus, sehingga suara kita tidak terdengar dengan jelas oleh lawan bicara kita, maka hal ini termasuk ke dalam gangguan (noise) teknis.
Pada noise yang kedua, gangguan level semantik, adalah sejauh mana kata-kata atau komunikasi yang kita lakukan melalui telepon tadi dapat dipahami atau ditangkap sesuai apa yang kita maksudkan. Mungkin secara teknis, suara kita sudah dapat didengar dengan cukup jelas oleh lawan bicara kita, tapi belum tentu apa maksud dari pembicaraan atau dari kata-kata kita dipahami atau ditangkap secara baik oleh lawan bicara kita itu.
Sedangkan pada level yang ketiga, gangguan masalah keefektifan adalah persoalan tentang sejauh mana kata-kata atau komunikasi yang kita lakukan terhadap lawan bicara kita mampu mempengaruhi tingkah laku orang tersebut agar mau melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak kita. Gangguan pada level ini adalah persoalan behavioral. Pada level ini pula, komunikasi dilihat oleh Shannon dan Weaver sebagai alat propaganda.
Jika ternyata komunikasi yang dilakukan tidak berhasil mengubah perilaku lawan bicara kita agar mau mengikuti apa-apa yang dimaksudkan oleh komunikator, maka komunikasi yang dilakukan dianggap mengalami gangguan atau noise. Lebih dari itu komunikasi yang dilakukan dilihat juga sebagai komunikasi yang tidak efektif, atau komunikasi yang gagal.
Dalam sudut pandang ini, teori Shannon dan Weaver selanjutnya dianggap mamandang persoalan komunikasi sekedar sebagai hitung-hitungan yang matematis. Lebih jauh lagi, komunikasi pada nantinya dibuat sedemikian rupa agar mampu memanipulasikan pesan dan saluran guna mencapai level keefektifan komunikasi yang optimal, yaitu mampu mengubah orang lain mengikuti apa-apa yang diinginkan oleh seorang komunikator.


Makalah Dasar-dasar Komunikasi Kelompok 2
Dosen: Ibu Murti Kusuma Wirasty

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS